Srikandi Cilik Labuang Kallo

“Guru adalah pemimpin bagi seluruh siswa dan siswi di Indonesia. Di luar sekolah, ia adalah teman kita tetapi kalau di sekolah, ia adalah guru kita dan jikalau di masjid, ia adalah pemimpin kita selain Nabi Muhammad SAW menuju ke surga yang paling layak untuk ditempati,” Nurdiana, siswi kelas 6 Desa Labuang Kallo.

Pertama kali bertemu, kelas dimulai dengan kegiatan “perkenalan”. Dan saya pun sangat terkesan pada beberapa orang diantara  mereka. Salah satunya Nurdiana. Kata orang-orang, ia siswi yang pintar dan juara kelas namun suka protes dan membentak teman bahkan gurunya sehingga sering membuat beberapa guru sangat kesal. Ia seperti tidak pernah mengenal sopan santun dalam berbicara. 

Ketika giliran ia maju ke depan kelas, ia tidak mau menyebutkan cita-citanya. Kemudian ia bertanya, “Bolehkah anak perempuan  bercita-cita Pak? Kan tidak ada gunanya juga.” Saya tertegun mendapat pertanyaan itu darinya. “Kenapa kamu berbicara seperti itu?”, tanya saya. Saya pun melanjutkan, ” Setiap anak memiliki hak untuk bercita-cita, baik laki-laki maupun perempuan, tidak ada perbedaan. Kamu harus mempunyai cita-cita karena dengan itulah kamu dapat mempunyai arahan dalam hidup, punya tujuan. Nantinya akan ada semangat untuk mewujudkannya. Ayo, kamu harus punya cita-cita.” Dengan terpaksa ia pun menjawab sekenanya tanpa tersenyum, “Jadi guru saja ji Pak.”

Di bulan kedua, ia pun mulai menuliskan cita-citanya sebagai seorang guru. Bahkan  ia menggambarkan cita-citanya itu di  sebuah kertas; denah ruang kelas dengan tulisan yang cukup panjang di bagian bawahnya. Dan pada saat itu, jika Anda bertanya tentang cita-citanya, dengan bangga dan lantang ia akan berkata, “Cita-cita saya menjadi guru di daerah pesisir karena saya ingin memajukan desa saya. Sekolah pun tidak perlu tergantung dengan guru dari Grogot (Ibukota Kabupaten Paser). Saya juga ingin menjadi guru untuk membantu anak-anak yang lain agar menjadi anak yang cerdas.”

Kemudian di bulan ketiga penempatan saya di Desa Labuang Kallo, kami kembali bercerita mengenai cita-cita. Dan mengejutkan bagi saya ketika ia berkata, “Bapak, kenapa tidak ada yang bercita-cita jadi ibu rumah tangga? Kan Bapak pernah bilang kalau ibu rumah tangga adalah tugas paling mulia.”

Pernah suatu waktu kami berdiskusi dan jika ia dihadapkan pada kenyataan pahit akan sulitnya kemungkinan untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi, ia berkata, “Jika saya tidak bisa menjadi guru pada saat ini, nantinya anak saya mungkin akan bisa menjadi guru Pak. Saya akan menjadi orang tua yang baik bagi mereka.”  That’s why she’s so inspiring for me.

Pada bulan keempat di Labuang  Kallo, kami mendapat surat dari sahabat pena di Sulawesi. Ia membalas surat itu dengan serius dan sepenuh hati pada temannya, Erwin, yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Menanggapi cita-cita temannya, ia berkata melalui sebuah video singkat, “Cita-cita kamu jadi pemain bola aja ya? Kenapa tidak menjadi guru, polisi atau tentara?” Dia pun bercerita tentang saudaranya yang patah kaki akibat bermain bola. Itu karena ia takut nantinya akan terjadi hal yang sama dengan temannya yang bahkan belum pernah ia temui.

Begitulah semangat ia pada saat ini dalam usaha meraih cita-cita dan menentukan arah hidupnya. Dalam suratnya yang ditujukan kepada saya, ia pernah menulis, “Bapak bagaikan bintang kami yang selalu bersinar di saat sedih maupun senang. Bapak selalu menyinari kami kapan pun dan di mana pun. Bapak adalah pemimpin kami menuju jalan yang benar… bukan begitu? Seandainya Bapak pergi, kami adalah penerus Bapak. Saya akan ikuti jejak Bapak supaya bisa menjadi guru. Dulu saya gak punya cita-cita karena saya menganggap sekolah itu tidak ada artinya. Setelah Bapak ada, saya mengerti tujuan sekolah itu apa. Dengan sekolah, kita dapat menggapai cita-cita kita kini. Saya mengetahui arti hidup hanyalah untuk menggapai tujuan/cita-cita kita dan menjadi anak yang soleh/soleha serta membanggakan orang-orang di sekitar kita.”

Pun ketika ada masalah di keluarganya, ia tetap bersemangat. Didalam suratnya, ia menulis “Hidupku terasa hancur tapi saya harus bangkit dan harus bersemangat karena saya ingin meneruskan cita-cita saya.”

Dekap erat mimpi-mimpi mu anak-anak ku, biarkan mereka menjadi nyata hingga nanti kita bertemu lagi. 🙂

Catatan Andrio
Pengajar Muda III
Desa Labuang  Kallo Kab Pasir, Kaltim

Advertisements

Aku, Teman-Teman Ku dan Mimpi-Mimpi Ku: Kami Pasti Bisa

“It’s all about US, not about ME,” kata-kata yang masih membekas di benak saya didapat dari training intensif dua bulan Indonesia Mengajar untuk membangkitkan semangat kebersamaan di antara kami dan sifat saling membantu satu sama lain; tidak mengabaikan orang lain dan merasa senang untuk maju bersama sebagai satu kesatuan yang utuh.

Kertas-kertas penjaga mimpi
Tiba-tiba saja ide baru hadir di pagi yang cukup cerah ini. Saya membatalkan rencana awal untuk menulis surat bagi tiap-tiap siswa kelas 6; menulis pesan-pesan saya bagi mereka. Kertas-kertas surat berlambang cinta yang didominasi warna merah itu pun saya bagikan pada setiap anak. Nah, setiap siswa nantinya akan menuliskan kesannya terhadap siswa-siswa lainnya di kelas yang sama. Saya memberi kebebasan pada mereka untuk menyampaikan apa pun di kertas mungil itu. Di hari ini, saya memberikan kebebasan bagi mereka untuk mengekspresikan karakter diri melalui bahasa singkat.

Waktu beberapa menit pun dialokasikan untuk mengisi kertas-kertas tersebut. Setelah mereka semua menyelesaikan tugas, tiap-tiap siswa menempelkan double tape di balik surat-surat mereka dan mengantri menunggu giliran menempelkan properti masing-masing di papan tulis.

Ketika siswa terakhir menyelesaikan tugas tempel menempel, saya meminta tiap siswa menuliskan cita-cita mereka di bagian amplop dengan huruf kapital agar terbaca jelas. Di titik ini, saya ingin melihat perubahan cara pandang dan pola pikir mereka terhadap hal yang sangat krusial ini. Kenapa krusial? Karena hal “kecil” ini lah yang memberikan semangat dan ruh bagi mereka untuk tetap melanjutkan hidup.

Mimpi-mimpi ku
Di sesi ini, siswa-siswa saling berlomba mengacungkan tangan untuk menjadi yang pertama menuliskan mimpi mereka di kertas merah yang sudah mereka pajang. Satu per satu pun mulai maju dan menorehkan tinta pena penuh semangat disertai sorotan mata penuh keyakinan. Namun, ada juga beberapa siswa yang masih malu-malu untuk maju ke depan kelas. Tak apalah, namanya juga anak-anak.

Mimpi-mimpi telah ditorehkan dan saya pun ingin mengetahui latar belakang mengapa mereka kemudian beralih cita-cita. Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, ketika berkenalan dengan mereka, cita-cita yang keluar dari mulut mungil mereka “hanya lah” menjadi atlet olahraga, tidak terpikir cita-cita yang lain, bahkan tidak untuk menjadi seorang guru. Namun, saat ini mereka telah berani menuliskan dan berteriak dengan lantang bercita-cita menjadi dokter, guru, bidan, perawat, tentara, polisi dan seniman. Guru menempati posisi teratas sebagai cita-cita terbanyak yang dipilih siswa.

Kami pasti bisa
Di catatan berikut ini, akan saya paparkan cita-cita dua siswi beserta alasannya yang cukup menyentuh bagi saya di siang itu:

Nurdiana. Dia merupakan siswi yang cukup cerdas dan termasuk dalam tiga siswa peringkat teratas kelas 6. Di awal pertemuan dia berkata tidak memiliki cita-cita. Dan ia pun sempat bertanya apakah boleh seorang perempuan memiliki cita-cita. Saya pun hanya menjawab, “Kamu itu cerdas dan juara kelas, kamu pasti bisa. InsyaAllah. Ingat saja cerita si katak kecil ya. Jangan dengarkan perkataan pesimis dari orang lain.” Dan hari ini dia memilih guru sebagai profesi yang akan dia geluti karena dia sadar bahwa desanya ini masih kekurangan banyak guru dan dengan mengabdikan dirinya sebagai guru lah, dia dapat berkontribusi memajukan desa pesisirnya ini. Dalam bahasa sederhanya dia menyampaikan, “Biar desa saya maju Pak, ndak perlu tergantung sama guru dari Grogot (Ibukota Kab. Paser).”

Mirani adalah siswi yang kerap menjadi catatan bagi setiap orang baik di kelas maupun di masyarakat karena tingkah lakunya yang cukup berbeda dari teman lainnya sehingga banyak yang bilang dia anak “nakal”. Waktu banyak terbuang hanya untuk sekedar membujuk dia agar berani menuliskan cita-citanya di papan tulis. Bidan, itulah kata yang kemudian dituliskannya. Hanya dia lah yang menuliskan cita-cita ini di kertas merah itu. Teman-teman, pilihannya untuk menjadi bidan bukan karena asal pilih. Alasannya sungguh mulia: ingin menyembuhkan masyarakat Desa Bengkalo yang sakit, siap sedia kapan pun dibutuhkan dan tidak perlu mendatangkan bidan dari luar desa. “Saya juga ingin memajukan desa saya. Kami pasti bisa Pak.” Nah, Mirani bukan anak yang nakal bukan?

Banyak cerita lainnya dari 15 siswa yang hadir di hari ini. Namun, hanya cerita dua siswi yang dapat saya sampaikan saat ini. Semoga mimpi-mimpi mereka tetap terjaga dan bisa diwujudkan di kemudian hari. Kalau pun belum bisa, insyaAllah mereka dapat memahami arti pentingnya mimpi dan meneruskannya ke generasi berikutnya.

Catatan Andrio
Pengajar Muda Kab. Paser
22 November 2011

#bagi teman-teman yang ingin berkirim surat dengan mereka, sangat dipersilahkan untuk menghubungi saya. Satu surat yang dialamatkan pada mereka memberi jutaan makna bagi peningkatan kepercayaan diri mereka.


Sendu di Senin Kelabu Part 2

Upacara penaikan bendera hari Senin pun terpaksa ditiadakan karena memang tidak banyak siswa yang hadir. Bahkan, hanya ada enam siswa kelas 6 yang hadir tepat waktu di sekolah. Saya dan beberapa guru memutuskan untuk menunggu siswa-siswa yang masih dalam perjalanan menuju sekolah hingga pukul setengah 9. Namun, siswa kelas 6 yang datang hanya 8 orang. Dan saya bersama dua siswa berkeliling desa menjemput para siswa yang nampaknya masih terlelap tidur setelah begadang semalaman, menikmati hiburan dangdutan.

Satu hal yang saya pelajari dari Bapak Patrya Pratama, Pengajar Muda 1 yang sebelumnya ditempatkan di desa ini, mengunjungi rumah anak-anak, mengingatkan untuk bersekolah. Kunjungan dadakan di pagi hari itu dimulai. Dan yang saya temui di tiap rumah, sesuai dengan perkiraan. Sebagian besar dari mereka masih tertidur lelap.

“Hendri, ini guru mu datang. Belum bangun dia Pak, masih tidur. Baru tadi pagi dia tidur Pak”, sala seorang wali murid menjawab ketika saya bertanya kenapa anaknya belum ada di sekolah. Sang Ibu pun berkeluh kesah, tidak bisa membangunkan anaknya untuk disuruh pergi ke sekolah. Tampaknya si anak cukup sulit diatur di rumah. Dan hal yang sama saya temui di tiap rumah yang dapat dikunjungi pagi itu; mereka belum bangun tidur. Akan tetapi, kunjungan saya ke beberapa rumah cukup mengagetkan karena orang tua pun tidak mengetahui dimana anaknya menginap kemarin malam.

Kunjungan pagi itu diakhiri pada pukul 09.00 WITA. Ketika saya memulai KBM, satu per satu anak yang saya kunjungi tadi mulai berdatangan. Dan di akhir jam pelajaran, ada 15 siswa yang hadir di kelas 6 mengikuti KBM.

Senin di hari itu memang kelabu, awan mendung menggelantung sepanjang hari, menutup pancaran sinar matahari pagi di desa ini. Dan hari itu pun sendu karena tidak adanya upacara penaikan bendera merah putih dan sedikitnya siswa yang hadir di sekolah akibat acara hiburan kemarin malam. Namun, hal ini menjadi catatan tersendiri bagi saya tentang tantangan besar yang masih harus dihadapi untuk menumbuhkan semangat belajar siswa tanpa adanya dukungan yang cukup kuat dari orang tua. Melihat kondisi ini pun saya teringat ucapan seorang teman: “Orang tua harus mampu menjadi guru bagi murid di rumah.” Namun di desa ini, saya melihat dan merasakan sesuatu yang baru: “Guru harus mampu menjadi orang tua bagi murid dimana pun ia berada, bukan hanya sebatas mengajar saja. Karena apa? Karena anak-anak disini juga butuh perhatian dan kasih sayang. Jadi, jangan marah. Sayang dan tegas lah terhadap mereka. Pasti mereka bisa.”

Catatan Andrio
Pengajar Muda Kab. Paser
21 November 2011


Sendu di Senin Kelabu Part 1

“Pulang sudah je Pak, ndak ada banyak orang yang datang hari ini. Masih tidurnya mereka,” ucap salah seorang siswa saya menanggapi pertanyaan saya terhadap kondisi sekolah yang masih sangat sepi di Senin pagi.

Di hari Senin ini, kami tidak mengadakan upacara penaikan bendera merah putih. Beberapa hal yang menyebabkan hal ini adalah sebagai berikut: cuaca mendung yang disertai gerimis, tidak adanya pelaksana upacara dan jumlah siswa yang sangat sedikit hadir di pagi itu disebabkan oleh adanya hiburan dangdutan di Minggu malam.

Hiburan yang tidak menghibur
Sudah menjadi hal yang lumrah di desa saya ketika ada hiburan (baca: dangdut), seluruh warga desa pun berkumpul dan warga desa lain berdatangan guna mencari hiburan yang sama bentuknya. Hiburan memang merupakan sesuatu yang sangat wah di desa ini karena tidak ada hiburan lain selain joget. Joget pun jarang diadakan, tergantung pada ada atau tidaknya acara nikahan. 

Situasi ini menyebabkan warga termasuk anak-anak begadang hingga larut malam dan dini hari. Untuk menghindari hal ini, saya dan seorang guru, Pak Amin, berinisiatif untuk mengunjungi lokasi hajatan dan mencari anak-anak SD yang masih berkeliaran di larut malam. Dan memang, masih banyak siswa yang saya temui, bahkan ditemani orang tuanya.

Di malam itu, saya juga berhasil menemui seorang siswa kelas 1 SD, bertanya kapan dia akan balik ke rumah. Dan dia pun menjawab “Sampai acara selesai Pak, ada potong kue.” Untuk diketahui, acara dangdutan selesai pada pukul 2 pagi. Ketika saya minta dia dan beberapa temannya untuk pulang ke rumah, mereka bilang tidak bisa karena tidak ada orang di rumah, seluruh anggota keluarga ada disana hingga dini hari.

Saya beranjak menuju tempat lainnya dan menemukan beberapa orang siswa kelas 6. Sebagai wali kelas, saya menekankan pada mereka untuk pulang ke rumah saat itu juga. Kalaupun tidak, saya hanya berpesan pada mereka untuk tidak tidur terlalu larut karena besok harus turun ke sekolah.

Disamping itu, kondisi memang tidak kondusif bagi perkembangan psikologi mereka. Di panggung utama, muncul biduan-biduan yang menyanyikan berbagai lagu dengan pakaian yang tidak senonoh untuk ditonton anak kecil. Bukan hanya pakaian, ekspresi dan tingkah para biduan di atas panggung pun membuat mata para siswa ku tidak berkelip sedikit pun, memperhatikan lekuk tubuh para biduan yang memang, maaf, membangkitkan nafsu birahi bagi yang melihatnya beraksi.

Setelah menemui dan memberi pesan serta penekanan pada para murid, saya pun beranjak pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hanya bersiap menunggu kenyataan esok hari, apakah mereka akan banyak datang bersekolah atau tidak.

Catatan Andrio
Pengajar Muda Kab. Paser
20 November 2011


Aku Anak Pesisir

“Anak pesisir itu tidak bisa diatur, anak pesisir itu pemalas dan suka berbuat onar, anak pesisir itu tidak mengerti tata krama, anak pesisir itu pada bongo (bodoh) semua” sebuah daftar yang sangat panjang untuk disampaikan di tulisan ini. Kalimat-kalimat itu hampir tiap hari saya dengar dan terima ketika berkunjung dari rumah ke rumah, berbicara mengenai anak-anak di Desa Labuangkalo, daerah penempatan saya di Kalimantan Timur.

Namun, sesuai dengan pesan yang disampaikan Bapak Munif pada masa training intensif selama dua bulan bahwa semua anak adalah juara, tidak ada anak yang nakal, saya berusaha untuk mengubah paradigma tersebut bahkan dalam pikiran saya sendiri. Saya meyakini, mereka hanya butuh diperhatikan dan diarahkan, seperti itu.

Dan ketika saya melihat kenyataan di lingkungan sekolah dan kelas di desa ini, pikiran saya pun berkecamuk, membenarkan pernyataan masyarakat dan mempertanyakan pendapat Pak Munif atau sebaliknya. Nampaknya benar mereka bukan para juara, sulit memang untuk dibentuk. Orang tua pun ketika saya kunjungi hanya berpesan “Kalau perlu dipukul, pukul saja Pak. Ndak apa apa. Dia memang nakal. Sama orang tuanya saja melawan.”

Kemudian pikiran saya melanglang buana ke masa lalu ketika masih melaksanakan PPM (Praktek Pengalaman Mengajar) di salah satu sekolah dasar di Cikereteg, Bogor. Mengajar saat itu sangat menyenangkan. Apa pun metoda yang dipraktekkan, dapat diterima dengan baik tanpa perlu berteriak, tanpa perlu mengernyitkan dahi ataupun mengelap keringat. Saking nyamannya suasana belajar mengajar, saya tidak perlu menerapkan aturan kelas karena mereka sudah paham dengan keteraturan. Apalagi dengan testimoni Aji, siswa kelas 3, yang sambil menangis berucap bahwa dia ingin menjadi anak baik, dia bukan anak nakal. Dia menyampaikan hal itu setelah diberi nilai-nilai positif secara kontinu oleh lima Pengajar Muda yang bertugas disana.

SD Kami di Bengkalo
Hal yang sangat kontras saya temukan di Sekolah Dasar Negeri 002 Tanjung Harapan. Ketika memasuki kelas, saya tetap berpikir bahwa para siswa dimanapun adalah anak-anak dan tidak ada anak yang nakal. Semua anak itu pada dasarnya baik. Kalaupun “nakal” masih tetap bisa dibentuk. Akan tetapi, ketika saya mulai mengajar dengan penuh semangat, mereka hanya menanggapi dengan raut wajah tanpa ketertarikan sama sekali.

Saya pun melanjutkan pengajaran dan mereka pun mulai bertingkah. Berikut ini hal-hal yang mereka lakukan di kelas: saling berteriak satu sama lain terutama perempuan, menghentak-hentakkan kaki di kelas ketika berjalan, duduk seperti orang sedang minum kopi di kedai (kaki dinaikkan ke atas bangku), duduk di atas meja, tidak memperhatikan pelajaran, mengejek guru-guru, mengganggu dan memukul temannya, tidak mengerjakan pekerjaan rumah dan sebagainya.

Peraturan kelas khusus pun diterapkan bagi mereka, anak pesisir. Peraturan itu hanya empat poin dan protes pun berdatangan, “Terlalu banyak Pak, pusing kami.” Saya tetap bersikukuh untuk menerapkan keempat aturan itu. Pertama, tidak boleh menaikkan kaki diatas kursi. Sanksi: duduk di “Kursi Duduk Rapi” yang telah dipersiapkan di depan kelas. Jika melakukan kesalahan yang sama sebanyak tiga kali, jam istirahat akan dikurangi 10 menit.

Kedua, tidak boleh menghentak-hentakkan kaki di kelas. Sanksi: harus mengelilingi kelas 3 keliling dengan tenang. Ketiga, harus mengerjakan PR. Keempat, datang ke sekolah tepat waktu. Hanya itu namun terasa berat sekali bagi mereka.

Penerapan Aturan Kelas
Di hari pertama penerapan aturan, satu “Kursi Duduk Rapi” yang saya siapkan di depan kelas ternyata tidak cukup karena rata-rata mereka sudah sangat terbiasa untuk duduk dengan kaki di atas kursi. Dua kursi pun ditambah untuk mengakomodir “ke-hiperaktif-an” mereka. Hal ini berlangsung hampir selama dua minggu. Untuk diketahui, bukan hanya siswa yang dihukum untuk kasus ini, para siswi juga.

Ketika sanksi-sanksi telah dilaksanakan dengan tegas, perubahan kurang saya rasakan. Malah, mereka saling berebut mencari perhatian guru agar bisa didudukkan di kursi-kursi “spesial” itu. Ide-ide pun mulai digali kembali untuk mengatasi keadaan ini.

Ketika hampir putus asa menghadapi kondisi ini, saya pun me-recall materi tentang bagaimana menghadapi anak. Teringat tentang cerita “harta karun”, saya pun merubah mindset saya tentang mereka. Memang mereka belum menjadi juara, tetapi saya harus menemukan cara berbeda untuk menjadikan mereka itu yaitu memahami dan mengikuti keseharian mereka serta menggali potensi mereka lebih dalam.

Saya memutuskan untuk berkonfrontasi langsung dengan para siswa, menyampaikan pandangan umum masyarakat dan orang tua terhadap mereka seperti yang saya sampaikan di bagian atas setelah melakukan observasi. Mereka pun tertegun mendengar cerita saya. Dan mata mereka mulai berkaca-kaca ketika saya berbicara (baca: curhat) dengan tatapan yang sangat dalam, memperhatikan mereka satu per satu. Saya menyampaikan kegelisahan yang saya rasakan tentang mereka dan harapan saya sebagai seorang guru. Ceramah ini pun berlangsung selama lebih kurang 2 jam, 4 JP.

Setelah berbicara dari sudut pandang saya terhadap mereka secara keseluruhan, saya melanjutkan dengan mendeskripsikan kelebihan-kelebihan dalam diri mereka -orang per orang- yang dapat dikembangkan untuk mengoptimalkan potensi diri. “Bapak yakin, positif dikali positif hasilnya akan positif. Pembelajaran Matematika bukan? Ketika Bapak datang ke desa ini jauh jauh dari Pulau Sumatera dengan semangat tinggi untuk mengajari kalian dan kalian pun bersemangat untuk menimba ilmu bersama Bapak, KITA PASTI BISA, apa pun bisa kita lewati. Bahkan Dirgantara (siswa yang paling lemah dalam membaca dan menulis di kelas 6) pun bisa. Bapak jamin itu asal kalian semangat dalam belajar. Namun ketika Bapak bersemangat dan kalian tidak, tidak akan pernah ada hasil positif yang kita dapatkan, pasti. Kalian pilih yang mana? Toh, bagi Bapak tidak masalah kalian pilih yang mana tapi karena Bapak sayang kalian lah, Bapak akan selalu mengingatkan agar tetap bersemangat dalam belajar. Sekarang kita mau apa?” Mereka semua berteriak serempak “Kami mau belajar Pak.” Salah seorang siswi (paling aktif di kelas) kemudian secara spontan memimpin teman-temannya untuk mengucapkan “janji” tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang sama berulang kali dan akan bersemangat untuk belajar dimana pun.

Di akhir cerita hari itu, saya menyampaikan pada mereka: “Kalian semua adalah anak pesisir. Anak pesisir itu baik dan bisa diatur. Tidak boleh ada orang yang mengatakan hal-hal negatif tentang kita. Kalaupun mereka tetap menyampaikan hal-hal itu, kita akan buktikan bahwa mereka salah. Bapak akan selalu bersama kalian untuk melakukan itu karena saat ini Bapak dengan bangga akan berkata pada setiap orang: Saya adalah guru anak pesisir, Desa Bengkallo. Dan kalian semua adalah bagian dari Laskar Bengkallo, seperti cerita di film Laskar Pelangi itu, film yang kalian suka. Ayo semangaaaaatttt…”

Catatan Andrio
Pengajar Muda Kab. Paser
16 November 2011


Arti Mimpi Bagi Mereka

“Pak, boleh kah kami anak perempuan bermimpi juga? Nanti kami ditertawakan. Ndak mungkin katanya”, ungkap seorang siswi yang cukup cerdas di kelas 6, Nurdiana, ketika saya bertanya padanya tentang cita-cita dan mimpi di masa depan.

Perkenalan
Di hari pertama mengajar di kelas 6, saya berusaha untuk mendekatkan diri dengan seluruh siswa. Hal ini tentunya dimulai dengan sebuah perkenalan, kegiatan yang saya rasakan terlalu mudah untuk disampaikan di depan kelas. Namun tidak bagi mereka. Mereka sangat malu-malu memperkenalkan diri. Satu kata kemudian tertawa dan begitu seterusnya sehingga dibutuhkan waktu yang sangat lama bagi mereka untuk memperkenalkan diri.

Nah, sampai di satu anak ketika saya bertanya tentang mimpi dan cita-cita, dia seakan ketakutan untuk menjawab. Dengan mata berkaca-kaca, si anak itu pun kemudian menjawab “Pak, saya tidak punya cita-cita. Ndak ada gunanya juga punya cita-cita.” Dia balik bertanya pada saya apakah siswi juga boleh bercita-cita, berceritera tentang mimpi-mimpi mereka karena memang kondisi memaksa mereka mengubur hasrat walau hanya untuk sekedar bermimpi.

Sehingga di hari itu, perkenalan tentang cita-cita hanya dipenuhi dengan kata-kata: pemain bola, badminton, voli dan polisi. Dari 10 siswa yang hadir di hari perkenalan itu, ada enam anak yang bercita-cita menjadi pemain bulu tangkis, dua anak memilih pemain sepak bola, satu anak pemain voli dan satu lainnya memilih menjadi polisi. Tidak terpikir cita-cita yang lain karena memang kondisi geografis dan sosiologis lah yang membentuk pola pikir mereka saat ini. Dan untuk menjadi pemain bola kaki, badminton, atau voli tidak diharuskan memiliki pendidikan tinggi, tidak sekolah pun bisa asal pandai dan mahir.

Nah, saya pun mulai bercerita tentang berbagai pekerjaan yang ada di “dunia lain” di seberang sana. Dan mereka pun langsung menimpali penjelasan saya, “Bapak, mereka kan ndak tinggal disini memang, ia lah mereka bisa.” Saya pun tertegun, tidak mempertimbangkan kondisi mereka di desa ini ketika menjelaskan tentang mimpi dan cita-cita, mereka membutuhkan contoh kongkrit untuk dijadikan panutan. Di samping itu, mereka malu memiliki mimpi karena akan ditertawakan, “Tidak mungkin itu je Pak, ditertawakan saya.”

Cerita si Katak Kecil
“Pernah dengar cerita tentang si katak kecil?”, saya bertanya pada mereka. Dan mereka pun serempak menjawab, “Belum je Pak. Cerita kan Pak.” Cerita pun dimulai, “Pada suatu hari ada sekumpulan katak-katak kecil yang sedang berlomba mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi. Ada banyak penonton disana. Ada yang memberikan semangat namun ketika satu per satu katak kecil tidak mampu lagi berlari, para penonton pun mulai berteriak pesimis, ‘Tidak ada kesempatan untuk berhasil, menaranya terlalu tinggi. Tidak akan bisa itu sampai ke puncak.’

“Katak-katak kecil pun mulai berjatuhan satu per satu kecuali bagi mereka yang tetap bersemangat mencapai tujuan dan mimpi yang mereka cita-citakan. Sorakan pesimis tetap terdengar sepanjang perlombaan. Namun, ada satu katak yang akhirnya mampu mencapai puncak, Dia Berhasil. Semua katak pun bertanya, bagaimana dia bisa berhasil mencapai puncak sementara katak lain berguguran. Dan ternyata, katak yang menjadi pemenang itu TULI.”

“Anak-anak, biarkan lah banyak orang yang menertawakan mimpi-mimpi kalian. Yang perlu kalian lakukan saat ini adalah menjadi ‘tuli’ terhadap kata-kata negatif yang mereka sampaikan. Mereka ndak tau siapa kita, mereka tidak bisa menakar tingginya semangat kita. Kita lah yang mengatur masa depan kita, bukan mereka. Ingat, masa depan kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan di masa kini. Belajar yang rajin hari ini, InsyaAllah kita bersama akan menuai hasil positif di kemudian hari.”

Catatan Andrio
Pengajar Muda Kab. Paser
15 November 2011


Demi Rindu Untuk Bertemu

“Ombak kencang Pak, jadi kita melintas ke Bengkallo?” tanya seorang nelayan pada saya ketika mengetahui saya adalah Pengajar Muda yang akan menuju desa tersebut.

Mari pulang
Setelah seluruh kegiatan diselesaikan di Tanah Grogot, saya memutuskan untuk tetap pulang menuju Desa Bengkallo walau waktu sudah pukul 14.30 WITA, hari Minggu 20 November 2011. Perjalanan menuju desa tersebut memakan waktu satu setengah jam jalur darat bukan aspal dengan menggunakan taksi (mobil colt L300 berwarna putih, bukan sedan). Sehingga saya memperkirakan dapat sampai di Dermaga Lori tepat waktu, tidak terlalu sore, untuk menumpang kapal nelayan yang hendak ke Bengkallo.

Jika saya berangkat terlalu sore, sangat kecil kemungkinan akan ada kapal untuk saya tumpangi. Namun, saya kemudian harus menunggu hingga pukul 16.00 WITA karena kekurangan penumpang. Akhirnya setelah sepakat untuk membayar lebih menutupi kekurangan penumpang, kami pun berangkat menuju Lori.

Waktu di jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 18.05 WITA. Seharusnya, balapan (kapal kecil) yang disewa salah seorang teman yang baru saja saya kenal di taksi, sudah sampai di Lori. Akan tetapi, setelah satu setengah jam menunggu ditemani dingin dan sepi serta angin timur yang berhembus, balapan itu tidak menunjukkan eksistensinya, bahkan suara mesinnya pun tidak ada terdengar. Kemudian saya beserta teman, namanya Pak Jarot, bercerita untuk mengisi kekosongan waktu.

Pak Jarot adalah seorang pedagang dari Jawa Timur yang telah cukup lama menetap di Desa Tanjung Aru, ibukota Kecamatan Tanjung Harapan. Beliau sedang ada urusan di kota dan berkeinginan untuk segera kembali ke Tanjung Aru. Namun tidak ada kapal yang bisa mengangkutnya akibat keterlambatan taksi yang kami tumpangi sehingga beliau harus menyewa balapan dari desa terdekat, desa penempatan saya Bengkallo (Labuangkallo). Nah, saya berkesempatan untuk ikut dengan beliau ke Bengkallo.

Balapan yang sudah dipesan akhirnya datang juga setelah menempuh satu jam perjalanan. Untuk diketahui, jarak tempuh normal Lori-Labuangkallo hanya 30 menit. Akan tetapi, angin yang kencang, tingginya gelombang dan gelapnya malam tanpa cahaya terang bulan menjadikan jarak tempuh bertambah dua kali lipat, 1 jam.

Bukan hanya jarak tempuh yang bertambah, resiko balapan terbalik dihantam ombak juga ada, malahan semakin besar. Dan, basah kuyup diatas balapan merupakan sebuah kepastian. Bapak nelayan pun bertanya sambil memeras bajunya yang basah, apakah perjalanan akan tetap dilanjutkan atau tidak dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kondisi alam serta resiko yang akan dihadapi. Saya menjawab “Pasti dilanjutkan, insyaAllah kita akan selamat karena saya sudah berjanji untuk esok mengajar mereka di sekolah. Mereka juga butuh saya malam ini. Disamping itu, saya ingin menyaksikan upacara penaikan bendera mereka di Senin pagi”. Sudah rindu rasanya ingin mengajar mereka setelah beberapa hari absen dikarenakan urusan di Tanah Grogot. Dan Pak Jarot pun menyanggupi melintasi laut yang kelihatannya cukup ganas walau dia ragu untuk meneruskan perjalanan hingga Tanjung Aru.

Bersama-sama kami menuruni jembatan untuk menginjakkan kaki di balapan yang akan menghantar kami ke tujuan masing-masing. Saya pun meletakkan barang-barang penting seperti kertas-kertas yang dengan susah payah saya bawa dari Tanah Grogot di bagian depan balapan agar tidak basah diguyur air laut walau saya yakin barang-barang tersebut akan basah dan rusak juga nantinya. Dan perjalanan itu pun dimulai.

Laut ganas pun akan kuseberangi
Saya duduk di bagian depan balapan karena katanya posisi tersebut cukup aman dari guyuran air asin ketika balapan menghantam atau dihantam gelombang. Akan tetapi, hal itu tidak terbukti. Saya pun basah kuyup di 10 menit awal perjalanan. Si bapak yang katanya akan memacu balapan pelan-pelan pun tidak menepati janjinya. Balapan yah balapan, dipacu untuk saling berbalapan.

Tidak ada yang namanya laut tenang ketika kita memilih melintas dengan balapan pada pukul 19.32 WITA. Angin timur menghalau ombak-ombak di lautan menghantam balapan dari sisi kiri. Dan juga jelas terlihat ombak bergulung-gulung di hadapan balapan yang kami tumpangi menanti untuk dipecah.

Air laut nan asin pun mengguyur wajah dan tubuh saya secara merata. Asin memang. Sesekali saya beserta teman senasib seperjuangan harus memindahkan atau menggoyangkan badan ke sisi kiri dan kanan untuk mengembalikan kondisi kapal pada posisi seimbang agar tidak terbalik bahkan tenggelam dihantam ombak. Pernah satu masa, saya hampir terguling ke sisi kanan balapan ketika saya sedang tertunduk merapikan perlengkapan sekolah yang diletakkan di bawah, bagian dalam balapan.

Situasi, yang bagi saya mencekam, berlangsung selama lebih kurang 35 menit. Semua perlengkapan sekolah yang saya bawa, basah diguyur air asin. Kemudian berbagai doa dan permohonan pada Tuhan YME pun disampaikan agar keselamatan terjaga sepanjang perjalanan. Toh, kalaupun hal yang tidak diinginkan terjadi, saya tidak menyesal karena hal ini saya anggap sebagai sesuatu yang benar.

Melihat kondisi lautan yang tidak tenang, Pak Jarot pun memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Tanjung Aru dan beristirahat di desa saya. Akan tetapi, setelah 45 menit berlalu, saya masih belum mampu melihat secercah cahaya yang menunjukkan keberadaan Desa Bengkallo. Untuk diketahui, kondisi yang ada memaksa kami untuk mengambil track yang lebih jauh dari biasanya, menyusuri tepi laut untuk menjaga kestabilan balapan dari gelombang laut. Ketika saya melihat dan menapakkan kaki di desa yang saat ini sangat dirindukan, terucap rasa syukur yang sangat mendalam karena masih diberi kesempatan untuk mengajar di keesokan harinya. Alhamdulillah…

P.S. : “Walau harus menghadapi resiko yang cukup besar dengan melintas laut di malam hari di tengah cuaca yang tidak bersahabat, Bapak meyakinkan diri akan tetap berusaha datang ke sekolah kita untuk melihat semangat belajar kalian di keesokan hari karena Bapak yakin bahwa kalian telah berubah menjadi anak dengan semangat dan cita-cita yang membumbung tinggi di angkasa.”

“Di balapan yang bergoncang hebat itu pun Bapak selalu ingat senyuman semangat kalian ketika menyanyikan lagu Aku Bisa bersama-sama, terutama ketika kalian menyanyikan bagian ini: kadang ku takut dan gugup, dan ku merasa oh oh tak sanggup, melihat tantangan di sekitarku, aku merasa tak mampu, namun ku tak mau menyerah, aku tak ingin berputus asa, dengan gagah berani aku melangkah dan berkata Aku Bisa. Bapak banyak belajar dari kalian di malam ini, semangat kalian untuk tetap belajar di tengah keterbatasan dan kesulitan.”

Salam hangat,

Andrio dan Laskar Bengkallo
Kabupaten Paser
Bengkallo, 21 11 2011