Israel Menghentikan Protes Fly-In

Kepolisian Israel telah menahan enam aktivis pro-Palestina dan menahan lebih dari 100 orang lainnya yang berpartisipasi dalam protes fly-in di Bandara Internasional Ben Gurion di Tel Aviv.

Aktivis yang ditahan, semuanya adalah warga Israel, melakukan demonstrasi bersamaan dengan kemungkinan kedatangan ratusan orang lainnya yang ingin berangkat menuju Palestina untuk menunjukkan solidaritas mereka yang disebut “flytilla”, mengacu pada armada kapal bantuan yang tidak diperbolehkan berlayar menuju Gaza.

Sepanjang Jumat dan Sabtu, pejabat di bandara menolak memberikan akses masuk pada 100 orang yang sebagian besar merupakan aktivis Eropa dan menyatakan sebagian besar dari mereka akan segera dikembalikan ke negara masing-masing pada penerbangan pertama yang tersedia.

Pada hari Sabtu, juru bicara kepolisian Micky Rosenfeld menyampaikan 120 orang ditolak akses masuknya dan sedang menunggu dideportasi dalam satu atau dua hari. Sebagian yang lain telah dideportasi, menurut juru bicara immigrasi.

Di Sabtu pagi, penerbangan Lufthansa yang sempat tertunda, mendarat di Israel, dan dalam waktu yang singkat sekitar 20 aktivis dipisahkan dari para penumpang lainnya oleh sedikitnya 15 anggota pihak keamanan, dilaporkan bahwa seorang jurnalis Al Jazeera tergabung dalam kelompok tersebut. Kelompok tersebut dibawa untuk diinterogasi dan paspor mereka dicek, dan jaringan mobile phone di dalam kawasan terminal dimana pesawat tersebut mendarat nampaknya dilumpuhkan.

Akan semakin banyak yang datang pada hari Sabtu

Pihak penyelenggara “flytilla” – secara resmi disebut kampanye Selamat Datang di Palestina – mengungkapkan bahwa terdapat setidaknya 800 aktivis yang kemungkinan akan berangkat menuju Bandara Ben Gurion dalam misi perdamaian mengunjungi keluarga-keluarga Palestina.

Sebagai respon terhadap kemungkinan tersebut, Israel memperketat pengamanan dan memberikan daftar nama 342 “orang yang tidak diinginkan,” berharap mereka akan mengurungkan niatnya di bandara-bandara di Eropa.

Setidaknya gerak 200 aktivis dihentikan di Eropa pada Jumat malam, walaupun ada 12-an orang yang berhasil masuk ke Israel sejauh ini, namun upaya ini akan semakin kuat di hari Sabtu.

Otoritas Israel mengatakan mereka sedang berupaya mencegah kampanye yang dilakukan para aktivis asing – sebagian besar mereka dari Paris – yang berdemonstrasi untuk mendapatkan akses menuju Tepi Barat.

Sebuah pernyataan dari Kementerian Keamanan Publik mengutip Kepala Kepolisian Wilayah Benzi Sau mengungkapkan bahwa operasi bersama kepolisian, kementerian luar negeri dan pejabat di bidang transportasi berupaya untuk “mencegah kedatangan ratusan aktivis di titik-titik kedatangan mereka di Israel.”

“Menteri Keamanan Publik (Yitzhak) Aharonovitch menginstruksikan bahwa … pasukan terus menerus disiapkan untuk mengantisipasi kedatangan penerbangan sore ini, termasuk mencegah terjadinya kekacauan, seraya memperhatikan sensitivitas,” dia menambahkan.

Pihak otoritas juga berupaya mencegah aktivis berkebangsaan Israel bertemu dengan para akitivis yang akan berdatangan di bandara.

“Enam aktivis sayap kiri Israel ditahan di bandara setelah menimbulkan gangguan di terminal,” Micky Rosenfeld, juru bicara kepolisian Israel mengungkapkan “mereka berasal dari Israel. Mereka tidak datang melalui pesawat.”

Strategi baru Israel – pencegahan

Dengan memperhatikan semakin meningkatnya jumlah konfrontasi aktivis melalui media dan kritikan dari dunia internasional, Israel mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya bentrokan kali ini dengan mencegah para pemrotes memasuki negaranya.

Menurut harian Israel, Haaretz, polisi dan unit intelijen memantau kegiatan para aktivis melalui jaringan sosial yang digunakan kelompok ini.

Laura Durkay, aktivis kewarganegaraan Amerika yang pro-Palestina, mengatakan dia ditahan di area pre-interogasi bersama dengan lebih dari 30 aktivis lainnya di ruang tunggu yang luas di dalam bandara.

“Mood setiap orang sangat bagus dan orang-orang berteriak gembira ketika semakin banyak aktivis yang datang,” ungkap Durkay. “Kami tidak tahu apa yang akan terjadi tapi kami pikir otoritas Israel akan memberikan kami pilihan langsung dideportasi atau ditangkap dan kemudian ditahan.”

“Apa yang kami inginkan adalah masuk ke wilayah Palestina, tapi jika hal itu tidak terjadi, kemudian semakin lama kami berada di sini semakin lama pula media akan memberikan perhatiannya pada cerita kami. Kami ingin menunujukkan bagaimana pemerintah Israel memperlakukan orang-orang yang mencoba masuk ke Palestina.”

Anna De Palma, 44, berkewarganegaraan Portugis, mengatakan dia berhasil melintasi keamanan di perbatasan tanpa masalah, hal ini dikarenakan dia tidak mengidentifikasi dirinya sebagai aktivis.

“Saya hanya bilang datang untuk berkunjung. Hanya itu,” ungkapnya. “Saya bukan tipikal orang yang konspisius dan kita tidak harus menjadi terlihat secara terang-terangan dalam hal ini.”

Di-blacklist di Eropa

Sejumlah 50 penumpang pesawat yang merupakan aktivis “pro-Palestina” dicegah menaiki penerbangan menuju Israel dari Bandara Jenewa, ungkap pihak pemerintah Swiss, yang memicu terjadinya penundaan penerbangan.

Beberapa orang yang tergabung dalam kelompok Perancis pro-palestina mencoba melintasi pintu keamanan bandara, yang berakibat pada keputusan pihak keamanan bandara menutup area boarding.

Di Bandara Roissy Charles de Gaulle di Perancis, setidaknya 9 aktivis dicegah dari penerbangan Hungarian carrier Malev menuju Tel Aviv melalui Budapest.

Beberapa orang bahkan tidak mampu melewati check-in counter sehingga harus mengurungkan niatnya dan mereka langsung berkumpul di terminal, meneriakkan “Boikot Israel”.

Cynthia Beatt, seorang warga Inggris yang tinggal di Jerman, mengungkapkan pada kantor berita AP bahwa dia dilarang boarding di penerbangan Lufthansa pada Jumat pagi di Berlin. Dia berencana untuk berpartisipasi pada protes tersebut.

“Lufthansa menelpon saya kemarin malam dan menyampaikan bahwa saya tidak diperbolehkan ikut dalam penerbangan mereka karena Israel menolak izin saya untuk masuk,” ungkap Beatt.

Dalam sebuah pernyataan, penyelenggara kampanye “flytilla” menyesalkan tekanan Israel terhadap armada penerbangan dan mengancam akan mengambil tindakan hukum.

“Kami menghimbau perusahaan penerbangan untuk tidak menerima tindakan provokatif, blackmailing, dan aksi ilegal pemerintah Israel,” ungkapnya.

“Pengunjung yang akan melakukan perjalanan antar negara memiliki hak di bawah hukum internasional dan kesepakatan perjalanan bilateral,” tambahnya. “Mereka yang pemesanan tiketnya dibatalkan (secara sepihak) akan memperjuangkan haknya untuk mengadakan protes termasuk membawa kasus ini ke ranah hukum di negara mereka masing-masing.”

Translated from Israel clamps down on fly-in protest, Al Jazeera 9 July 2011.

Advertisements

About Andrio

I would like to say thanks to someone who have asked me to write everything I wanna read in this blog. Honestly, I am not an expert on writing but I’ll try to do my best in providing any information that you wanna get from here. I wrote any articles on this simply blog based on my experience and my point of view about everything happened in my life. And I’m trying to translate some news from Indonesia to English and vice versa in a purpose to improve my knowledge in writing English. I hope that the small thing I have done could help some of you guys in a positive way especially gaining more info and knowledge. Currently, I am trying to read many books and articles to provide information for the readers. I’ll give my best shot.. View all posts by Andrio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: