Sejarah Konflik Sudan: Permulaan Perang Sipil

Kemerdekaan Sudan Selatan yang diraih pada 9 Juli 2011 menjadikan negara ini sebagai negara termuda di dunia, negara ke-196 yang terdaftar di PBB. Namun, kemerdekaan tersebut bukanlah hal yang mudah, diraih setelah konflik utara-selatan selama beberapa dekade yang menelan jutaan korban jiwa.

Permulaan konflik di Sudan begitu kompleks tetapi bibit-bibit konflik telah dimulai sejak era kolonial ketika pemerintahan koloni Inggris memberikan kekuasaan pada Khartoum – yang berada di kawasan utara – untuk mengatur segala hal di negara kesatuan tersebut. Hal ini lah yang menjadi dasar bagi gerakan pemberontakan kemerdekaan kawasan selatan Sudan. Sebagian besar populasi masyarakat di Sudan selatan menganut agama Kristen dan animisme sedangkan Sudan utara didominasi Muslim dan Arab.

Perasaan diasingkan dan disisihkan oleh pemerintah pusat terhadap masyarakat Sudan selatan memicu terjadinya perang sipil pertama di negara ini, konflik yang berlangsung selama dua dekade dan telah merenggut nyawa setidaknya setengah juta jiwa. Perang ini berakhir pada tahun 1972 melalui Perjanjian Addis Ababa, yang menjamin otonomi bagi Sudan selatan.

Keefektifitasan kesepakatan tersebut mulai memudar pada akhir tahun 1970-an setelah ditemukannya minyak di kawasan perbatasan antara selatan dan utara. Akan tetapi cadangan minyak terbesar terdapat di Sudan selatan. Kesepakatan damai berakhir pada 1983 ketika Gaafar Nimeiry mendeklarasikan Sudan sebagai negara Islam, menerapkan hukum syariah dan menyisihkan populasi di kawasan selatan Sudan. Hal ini berakibat pada kemunculan gerakan pemberontak di tahun yang sama; The Sudan People’s Liberation Army (SPLA), cikal bakal angkatan bersenjata di Sudan selatan.

Pada tahun 1985, kekuasaan Nimeiry berakhir melalui kudeta militer di bulan April. Kemudian pemerintahan sipil meraih kekuasaan di tahun berikutnya dipimpin oleh Sadiq al-Mahdi dari Partai Umma. Di pihak lain, setelah beberapa tahun bernegosiasi, SPLA dan Partai Persatuan Demokratis – partai oposisi utama di Sudan, mencapai kesepakatan tentatif di tahun 1988. Kesepakatan tersebut berisi tentang dihentikannya sementara pelaksanaan hukum Islam, diakhirinya status darurat di Sudan, gencatan senjata dan penetapan jadwal konvensi konstitusional.

Akan tetapi al-Mahdi menolak menandatangani kesepakatan tersebut dan dia akhirnya digulingkan di tahun berikutnya melalui kudeta militer. Kemudian Kolonel Omar al-Bashir merebut kekuasaan dan tetap berkuasa hingga saat ini.

Kesepakatan gencatan senjata antara Khartoum dan pemberontak berakhir pada Oktober 1989. Hal ini memicu terjadinya perang sipil yang berakibat pada tewasnya jutaan jiwa dan aliran pengungsi dalam jumlah yang sangat besar. Diperkirakan dua juta orang tewas selama konflik tersebut, berdasarkan data kelompok pegiat hak asasi manusia, sebagian besar merupakan warga sipil; sebagian dari mereka tewas bukan sebagai akibat langsung dari perang terbuka tetapi lebih disebabkan oleh kekeringan dan kelaparan. Ratusan ribu orang sipil lainnya telah bermigrasi ke negara tetangga mencari perlindungan sebagai pengungsi perang.

Dalam perang sipil, kedua belah pihak dituduh melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. SPLA dituduh melakukan ribuan penahanan dan eksekusi di kawasan yang berada di bawah kekuasaannya; tuduhan pemerkosaan masal yang umum terjadi juga termasuk di dalamnya. Pemerintahan pusat di Khartoum dituduh melakukan pemboman terhadap masyarakat sipil, menyerang perkampungan untuk mencari para budak, dan mempersenjatai milisi Arab untuk melakukan apa yang disebut PBB dengan kebijakan “pembersihan etnis” di kawasan Darfur. Puluhan ribu tentara anak-anak juga terlibat dalam perang sipil di kedua belah pihak.

Advertisements

About Andrio

I would like to say thanks to someone who have asked me to write everything I wanna read in this blog. Honestly, I am not an expert on writing but I’ll try to do my best in providing any information that you wanna get from here. I wrote any articles on this simply blog based on my experience and my point of view about everything happened in my life. And I’m trying to translate some news from Indonesia to English and vice versa in a purpose to improve my knowledge in writing English. I hope that the small thing I have done could help some of you guys in a positive way especially gaining more info and knowledge. Currently, I am trying to read many books and articles to provide information for the readers. I’ll give my best shot.. View all posts by Andrio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: