Sendu di Senin Kelabu Part 1

“Pulang sudah je Pak, ndak ada banyak orang yang datang hari ini. Masih tidurnya mereka,” ucap salah seorang siswa saya menanggapi pertanyaan saya terhadap kondisi sekolah yang masih sangat sepi di Senin pagi.

Di hari Senin ini, kami tidak mengadakan upacara penaikan bendera merah putih. Beberapa hal yang menyebabkan hal ini adalah sebagai berikut: cuaca mendung yang disertai gerimis, tidak adanya pelaksana upacara dan jumlah siswa yang sangat sedikit hadir di pagi itu disebabkan oleh adanya hiburan dangdutan di Minggu malam.

Hiburan yang tidak menghibur
Sudah menjadi hal yang lumrah di desa saya ketika ada hiburan (baca: dangdut), seluruh warga desa pun berkumpul dan warga desa lain berdatangan guna mencari hiburan yang sama bentuknya. Hiburan memang merupakan sesuatu yang sangat wah di desa ini karena tidak ada hiburan lain selain joget. Joget pun jarang diadakan, tergantung pada ada atau tidaknya acara nikahan. 

Situasi ini menyebabkan warga termasuk anak-anak begadang hingga larut malam dan dini hari. Untuk menghindari hal ini, saya dan seorang guru, Pak Amin, berinisiatif untuk mengunjungi lokasi hajatan dan mencari anak-anak SD yang masih berkeliaran di larut malam. Dan memang, masih banyak siswa yang saya temui, bahkan ditemani orang tuanya.

Di malam itu, saya juga berhasil menemui seorang siswa kelas 1 SD, bertanya kapan dia akan balik ke rumah. Dan dia pun menjawab “Sampai acara selesai Pak, ada potong kue.” Untuk diketahui, acara dangdutan selesai pada pukul 2 pagi. Ketika saya minta dia dan beberapa temannya untuk pulang ke rumah, mereka bilang tidak bisa karena tidak ada orang di rumah, seluruh anggota keluarga ada disana hingga dini hari.

Saya beranjak menuju tempat lainnya dan menemukan beberapa orang siswa kelas 6. Sebagai wali kelas, saya menekankan pada mereka untuk pulang ke rumah saat itu juga. Kalaupun tidak, saya hanya berpesan pada mereka untuk tidak tidur terlalu larut karena besok harus turun ke sekolah.

Disamping itu, kondisi memang tidak kondusif bagi perkembangan psikologi mereka. Di panggung utama, muncul biduan-biduan yang menyanyikan berbagai lagu dengan pakaian yang tidak senonoh untuk ditonton anak kecil. Bukan hanya pakaian, ekspresi dan tingkah para biduan di atas panggung pun membuat mata para siswa ku tidak berkelip sedikit pun, memperhatikan lekuk tubuh para biduan yang memang, maaf, membangkitkan nafsu birahi bagi yang melihatnya beraksi.

Setelah menemui dan memberi pesan serta penekanan pada para murid, saya pun beranjak pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hanya bersiap menunggu kenyataan esok hari, apakah mereka akan banyak datang bersekolah atau tidak.

Catatan Andrio
Pengajar Muda Kab. Paser
20 November 2011

Advertisements

About Andrio

I would like to say thanks to someone who have asked me to write everything I wanna read in this blog. Honestly, I am not an expert on writing but I’ll try to do my best in providing any information that you wanna get from here. I wrote any articles on this simply blog based on my experience and my point of view about everything happened in my life. And I’m trying to translate some news from Indonesia to English and vice versa in a purpose to improve my knowledge in writing English. I hope that the small thing I have done could help some of you guys in a positive way especially gaining more info and knowledge. Currently, I am trying to read many books and articles to provide information for the readers. I’ll give my best shot.. View all posts by Andrio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: