Srikandi Cilik Labuang Kallo

“Guru adalah pemimpin bagi seluruh siswa dan siswi di Indonesia. Di luar sekolah, ia adalah teman kita tetapi kalau di sekolah, ia adalah guru kita dan jikalau di masjid, ia adalah pemimpin kita selain Nabi Muhammad SAW menuju ke surga yang paling layak untuk ditempati,” Nurdiana, siswi kelas 6 Desa Labuang Kallo.

Pertama kali bertemu, kelas dimulai dengan kegiatan “perkenalan”. Dan saya pun sangat terkesan pada beberapa orang diantara  mereka. Salah satunya Nurdiana. Kata orang-orang, ia siswi yang pintar dan juara kelas namun suka protes dan membentak teman bahkan gurunya sehingga sering membuat beberapa guru sangat kesal. Ia seperti tidak pernah mengenal sopan santun dalam berbicara. 

Ketika giliran ia maju ke depan kelas, ia tidak mau menyebutkan cita-citanya. Kemudian ia bertanya, “Bolehkah anak perempuan  bercita-cita Pak? Kan tidak ada gunanya juga.” Saya tertegun mendapat pertanyaan itu darinya. “Kenapa kamu berbicara seperti itu?”, tanya saya. Saya pun melanjutkan, ” Setiap anak memiliki hak untuk bercita-cita, baik laki-laki maupun perempuan, tidak ada perbedaan. Kamu harus mempunyai cita-cita karena dengan itulah kamu dapat mempunyai arahan dalam hidup, punya tujuan. Nantinya akan ada semangat untuk mewujudkannya. Ayo, kamu harus punya cita-cita.” Dengan terpaksa ia pun menjawab sekenanya tanpa tersenyum, “Jadi guru saja ji Pak.”

Di bulan kedua, ia pun mulai menuliskan cita-citanya sebagai seorang guru. Bahkan  ia menggambarkan cita-citanya itu di  sebuah kertas; denah ruang kelas dengan tulisan yang cukup panjang di bagian bawahnya. Dan pada saat itu, jika Anda bertanya tentang cita-citanya, dengan bangga dan lantang ia akan berkata, “Cita-cita saya menjadi guru di daerah pesisir karena saya ingin memajukan desa saya. Sekolah pun tidak perlu tergantung dengan guru dari Grogot (Ibukota Kabupaten Paser). Saya juga ingin menjadi guru untuk membantu anak-anak yang lain agar menjadi anak yang cerdas.”

Kemudian di bulan ketiga penempatan saya di Desa Labuang Kallo, kami kembali bercerita mengenai cita-cita. Dan mengejutkan bagi saya ketika ia berkata, “Bapak, kenapa tidak ada yang bercita-cita jadi ibu rumah tangga? Kan Bapak pernah bilang kalau ibu rumah tangga adalah tugas paling mulia.”

Pernah suatu waktu kami berdiskusi dan jika ia dihadapkan pada kenyataan pahit akan sulitnya kemungkinan untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi, ia berkata, “Jika saya tidak bisa menjadi guru pada saat ini, nantinya anak saya mungkin akan bisa menjadi guru Pak. Saya akan menjadi orang tua yang baik bagi mereka.”  That’s why she’s so inspiring for me.

Pada bulan keempat di Labuang  Kallo, kami mendapat surat dari sahabat pena di Sulawesi. Ia membalas surat itu dengan serius dan sepenuh hati pada temannya, Erwin, yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Menanggapi cita-cita temannya, ia berkata melalui sebuah video singkat, “Cita-cita kamu jadi pemain bola aja ya? Kenapa tidak menjadi guru, polisi atau tentara?” Dia pun bercerita tentang saudaranya yang patah kaki akibat bermain bola. Itu karena ia takut nantinya akan terjadi hal yang sama dengan temannya yang bahkan belum pernah ia temui.

Begitulah semangat ia pada saat ini dalam usaha meraih cita-cita dan menentukan arah hidupnya. Dalam suratnya yang ditujukan kepada saya, ia pernah menulis, “Bapak bagaikan bintang kami yang selalu bersinar di saat sedih maupun senang. Bapak selalu menyinari kami kapan pun dan di mana pun. Bapak adalah pemimpin kami menuju jalan yang benar… bukan begitu? Seandainya Bapak pergi, kami adalah penerus Bapak. Saya akan ikuti jejak Bapak supaya bisa menjadi guru. Dulu saya gak punya cita-cita karena saya menganggap sekolah itu tidak ada artinya. Setelah Bapak ada, saya mengerti tujuan sekolah itu apa. Dengan sekolah, kita dapat menggapai cita-cita kita kini. Saya mengetahui arti hidup hanyalah untuk menggapai tujuan/cita-cita kita dan menjadi anak yang soleh/soleha serta membanggakan orang-orang di sekitar kita.”

Pun ketika ada masalah di keluarganya, ia tetap bersemangat. Didalam suratnya, ia menulis “Hidupku terasa hancur tapi saya harus bangkit dan harus bersemangat karena saya ingin meneruskan cita-cita saya.”

Dekap erat mimpi-mimpi mu anak-anak ku, biarkan mereka menjadi nyata hingga nanti kita bertemu lagi. 🙂

Catatan Andrio
Pengajar Muda III
Desa Labuang  Kallo Kab Pasir, Kaltim

Advertisements

About Andrio

I would like to say thanks to someone who have asked me to write everything I wanna read in this blog. Honestly, I am not an expert on writing but I’ll try to do my best in providing any information that you wanna get from here. I wrote any articles on this simply blog based on my experience and my point of view about everything happened in my life. And I’m trying to translate some news from Indonesia to English and vice versa in a purpose to improve my knowledge in writing English. I hope that the small thing I have done could help some of you guys in a positive way especially gaining more info and knowledge. Currently, I am trying to read many books and articles to provide information for the readers. I’ll give my best shot.. View all posts by Andrio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: